BERBAGI

Kejadian ini terjadi disebuah butik pakaian yang berlokasi disebuah kota besar di Tiongkok

Kala itu, ada seorang pria tua yang pakaiannya sangat sederhana.

Entah apa yang ada dibenaknya kala Itu, pria ini memutuskan masuk kedalam butik tersebut.

Didalam butik, pria ini langsung disambut oleh dua orang pegawai butik yang mengenakan seragam.

“Maaf, bapak sedang mencari orang?” tanya pegawai wanita dengan sangat ramah kepada pria tersebut.

Saat pegawai mengira dia sedang mencari seseorang, pria tua ini berkata : “Saya tidak mencari orang, saya ingin membeli baju.”

Mendengar ini para pegawai mulai merasa pesimis kepadanya dan berkata :

“Maaf pak, butik ini Cuma menjual pakaian bermerk dan harganya sangat mahal,” jawab salah satu pegawai yang lain dengan cepat.

“Pak! Ini butik khusus menjual busana bermerk, pakaiannya sangat mahal,” timpa pegawa satunya dengan cepat.

Tidak heran mengapa para pegawai ini merasa pesimis.

Pria tua yang berusia 60 tahunan ini masuk dengan kondisi memakai pakaian yang lusuh.

Bahkan sepatu yang dipakainya saja terbuat dari kain yang sudah sangat usang.

Tidak heran kalau penampilannya ini membuatnya dianggap tak punya uang untuk membeli baju mahal.

Melihat respon para pegawai, pria ini kemudian tersenyum dan berkata :

“Kalau saya tidak punya uang, mungkin saya akan melihat-lihat saja.

 

Melihat ini, para pegawai pun mengizinkannya masuk dan melihat-lihat semua pakaian yang sedang dipajang.

Saat sedang melihat-lihat, pria ini selalu berhenti sebentar di setiap bilik pakaian yang ditemuinya.

Terkadang pria ini meraba beberapa pakaian dengan tangannya.

Sementara itu, para pegawai wanita justru tampak kasak-kusuk membicarakan pria tua ini dengan tatapan hina.

Tepat pada saat itu, seorang wanita muda yang cantik berjalan masuk kedalam butik.

Dari parasnya, diperkirakan wanita ini berusia 26 tahunan.

Hal ini terlihat dari busana modis yang membalut tubuh moleknya.

“Kalian bukannya menjaga di pos masing-masing, malah berdiri bersama di sini, kenapa ?” tanya wanita itu dengan ketus.

“Bu, coba lihat bapak itu !”

”Dia sudah lama mondar-mandir, tapi tidak tampak seperti orang yang mau membeli pakaian,” kata salah satu pegawainya menghampiri wanita cantik yang ternyata adalah sang pemilik butik bernama Xiao Hui.

Xiao Hui pun mengerutkan kening mendengar perkataan pegawainya, lalu kemudian menghampiri pria itu.

“Halo pak!”

”Pakaian dibutik kami ini sangat mahal.”

”Lagipula tidak ada yang cocok untuk bapak.”

”Jadi, lebih baik bapak melihat-lihat di toko lain saja!” kata wanita ini dengan ketus.

 

Pria itu kemudian membalikkan badannya dan memandang Xiao Hui dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Dia lalu tersenyum dan berkata :

“Tampaknya kalian semua menilai seseorang dari penampilannya ya.””

Kalau tidak ada uang untuk membeli, sekadar melihat-lihat boleh dong !”

”Lagipula kalau tidak cocok untuk saya, saya kan bisa membelinya untuk menantu perempuan saya?”

“Bukan menilai orang dari penampilan pak, tapi saya benar-benar tidak melihat Anda itu sosok orang berduit.”

”Jadi ya jangan buang-buang waktu kita, lebih baik bapak ke toko di seberang jalan sana.”

”Pakaian disana hanya puluhan ribu rupiah sepotong, sedangkan di butik kami ini pakaian paling murah juga harganya jutaan sampai puluhan juta rupiah per potong,” kata Xiao Hui menjelaskan dengan suara tinggi.

Kebetulan pada saat itu, beberapa pelanggan yang membeli pakaian mendengar perkataan wanita pemilik butik.

Mereka pun kasak-kusuk mencibir pria tua itu seolah-olah berkata, kalau tidak ada uang lebih baik jangan ke butik.

Namun, dia kembali hanya tersenyum ramah dan berkata:

“Saya lihat Anda adalah bos di butik ini, tapi filosofi bisnis Anda tampaknya sangat bermasalah.”

”Cepat atau lambat anda pasti akan gulung tikar kalau begini terus cara mengelolanya.”

Sindiran pria ini rupanya tepat mengenai ulu hati Xiao Hui.

Usaha butiknya memang selalu rugi setiap bulan.

Sementara itu, pacarnya yang telah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun juga selalu menunda-nunda mengenalkannya kepada orangtuanya.

Dan tadi dia juga sempat bertengkar lagi dengannya saat dalam perjalanan menuju ke butik.

Amarah Xiao Hui pun seketika meledak mendengar sindiran pria ini.

Dia berkata dengan suara keras :

“Bangkrut juga bukan urusa Anda, keluarga saya punya uang segunung.”

”Biar pun saya berbaring juga uang itu tidak pernah akan habis, jadi sebaiknya Anda menghilang saja dari pandangan saya!”

“Jangan terlalu sombong nak, uang itu bukan segalanya.”

”Apalagi kekayaan bapakmu juga tidak seberapa, dia hanya wakil direktur di sebuah kantor cabang,” kata bapak itu sambil berjalan keluar dari butik.

Xiao Hui langsung terkejut seketika mendengar ucapan pria itu.

Bagaimana mungkin pria itu bisa tahu tentang ayahnya?

 

Xiao Hui terus berpikir.

Tiba-tiba dia baru teringat, pria tua itu ada dalam sebuah foto bersama ayahnya.

Dan ternyata dia adalah direktur utama tempat kerja ayahnya.

Xiao Hui pun langsung berlari keluar dan bertanya pada bapak itu :

“Anda kenal dengan Wang Dongsheng ?”

“Dia adalah putra bungsu saya,” kata bapak itu sebelum pergi.

Xiao Hui tiba-tiba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan bahkan menangis histeris.

Hal ini membuat orang-orang di butiknya bingung seketika.

“Bapak itu sepertinya tidak mengatakan apa pun yang menyakiti perasaannya,” gumam sebagian orang yang melihat kejadian tersebut.

Ternyata pria tua itu bukan hanya bos dari ayahnya Xiao Hui, tapi juga ayah dari pacarnya.

Tak heran kalau pacarnya bilang keluarganya masih harus menguji calonnya.

Dan dia tidak menyangka bapak itu akan melakukannya dengan cara diam-diam melakukan kunjungan pribadi ke butiknya.

Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan Xao Hui yang angkuh itu ?

Apakah rencana pernikahannya masih bisa diselamatkan ? (Sripoku.com/A. Sadam Husen)

Klik Jempol Di atas yaa… Otomatis Berteman dgn Saya….
dan TOLONG Bantu Bagikan ke Facebook ……

Loading...