Loading...
Loading...

Laki-laki ini mengalami sakit aneh yang kemudian membawanya pada kematian. Ada yang mengaitkan hal itu dengan kebiasaannya berselingkuh.

Sebut saja namanya Sudrajat 35 tahun. Laki-laki berwajah tampan, berbadan tegap, dan gagah. ia sudah beristri dengan 3 orang anak. Keluarganya hidup sederhana di sebuah desa di Jawa Barat.

Sudrajat menjalani banyak pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Berganti-ganti. Sebab terkadang satu pekerjaan tak menghasilkan pendapatan yang diharapkan.

Suatu ketika, ia mesti meninggalkan kampungnya; pergi ke kota Bandung. ia mendapat peluang berdagang gorengan di kota kembang itu. Baru memulai usaha, ia sudah mendapat cobaan; tergoda perempuan yang kemudian melenakannya.

Sudrajat pun berselingkuh. Uang hasil jualannya yang tak seberapa akhirnya habis karena skandal itu. Rumah tangganya sempat goyah gara-gara perselingkuhan itu.

Istri Sudrajat mengetahui dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Tapi konflik itu perlahan hilang dan Sudrajat kembali ke kampung halamannya.

Sudrajat lalu mendapat peluang baru: transmigrasi. Ya, pemerintah menawarkan program transmigrasi kepada penduduk di desa tempat tinggal Sudrajat ke Kalimantan. Ia termenung lama sebelum memutuskan mengambil kesempatan itu.

“Mungkin inilah jalan untuk mengubah nasib,” batinnya. Istrinya menurut saja saat Sudrajat meminta persetujuan. Walau anak-anaknya masih kecil, Sudrajat mengambil resiko.” Ini namanya perjuangan,” ujarnya dalam hati. Maka berangkatlah ia dan keluarganya ke bumi Kalimantan.

Sudrajat rupanya serius dengan misinya. Ia bekerja keras mengolah tanah yang dijatahkan pemerintah untuknya sebanyak 2 hektar. Ia garap tanah itu menjadi ladang. ia menanam kelapa, pisang dan beberapa tanaman lain. Ia bahu-membahu bersama istrinya, walau hidup serba kekurangan. Baginya tanah itu adalah tanah harapannya. Ia akan memanfaatkan semaksimal mungkin.

Untuk menambah penghasilan Sudrajat juga beternak sapi sebanyak 3 ekor. Sapi-sapi itu ia urus dengan telaten. Di Kalimantan tak banyak gangguan berarti yang ia dapatkan. Tempat Sudrajat menetap merupakan daerah yang masih sepi dan jarak dengan kota amat jauh. Jarak antara rumah di kampung itu juga sangat jauh. Tapi kondisi itu positif, sebab Sudrajat fokus menggarap tanah dan memelihara sapinya.

Seiring berjalannya waktu, buah kerja keras Sudrajat mendatangkan hasil. Panen ladangnya melimpah dan ia mendapatkan uang lumayan dari menjualnya. Pelangi seperti meliputi rumah tangga Sudrajat, sebab ia tak lagi kekurangan dan anak-anaknya bisa mendapat pendidikan dan fasilitas memadai. Tapi diam-diam kondisi itu memdatangkan bibit baru, masalah baru.

Makin lama tinggal di Kalimantan, Sudrajat sudah mulai luas pergaulannya. Tak hanya sesama penggarap ladang, tapi juga dengan masyarakat dan para gadis. Di sinilah penyakit lamanya kambung lagi. Ia mulai mencoba-coba berselingkuh kembali.

Sudrajat berkenalan dengan seorang gadis cantik. Perkenalan terjadi saat ia sedang memancing di sungai. Kegenitan Sudrajat timbul dengan mengajak si gadis berkenalan. Si gadis menyambut dengan baik. Tak sulit bagi dua orang itu kemudian untuk meningkatkan status perkenalan itu menjadi pacaran. Sudrajat berwajah tampan dan si gadis menyukainya. Mengenai status Sudrajat yang beristri kemudian tak menjadi masalah bagi keduanya.

TERJEREMBAB LAGI

Perselingkuhan itu berjalan dari hari ke hari. Dari sembunyi-sembunyi sampai kemudian di level terang-terangan. Orang-orang coba memperingatkan Sudrajat bahwa itu tak baik, mencoba mengingatkannya bahwa ia adalah laki-laki beranak-istri.

Tapi semua seperti masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Sampai suatu hari Sudrajat berani melakukan perselingkuhan itu di rumahnya.

Sudrajat sudah mengatur semuanya. Biasanya setiap pagi Istrinya akan pergi ke pasar. Di saat itulah ia berdua masuk rumah dengan si gadis. Tapi firasat seorang istri sangatlah kuat. Di tengah jalan, istri Sudrajat merasakan hal tak enak di hatinya. ia merasa melupakan sesuatu. Ia pun balik ke rumahnya.

Loading...

Saat itulah istri Sudrajat menyaksikan hal yang membuat dirinya goyah. Ya, ia melihat suaminya tengah berduaan mesra dengan perempuan lain. Istri Sudrajat berteriak dan kemudian berlari kalap keluar dari rumahnya dan menangis. Hatinya hancur Remuk.

Sejak kejadian itu rumah tangga Sudrajat tak harmonis. Rumah yang tadinya tentram dan dipenuhi harapan itu menjadi sendu dan suram. Istri Sudrajat lebih banyak diam. Seperti lampu, ia adalah lampu yang telah direnggut cahayanya. Istri Sudrajat lebih banyak murung dan berpikir untuk kembali ke kampungnya saja.

Keadaan semakin runyam saat si gadis meminta Sudrajat untuk mengawininya. Permintaan itu juga menjadi permintaan resmi dari keluarga si gadis. Kondisi yang makin tak menentu itu membuat Sudrajat diam-diam menyadari kesalahannya.

Ia kini berada dalam kondisi sulit. Jika memilih si gadis, maka ia akan kehilangan keluarganya, sedang kalau memilih pulang kampung bersama istrinya, ia akan kehilangan semua yang telah ia rintis. Ini masih ditambah masalah dengan keluarga si gadis yang menuntutnya bertanggung jawab.

Sudrajat kemudian memutuskan untuk memilih keluarganya walau ia menghadapi ancaman dari keluarga si gadis. Ia menjual beberapa aset yang masih bisa dijual dan kemudian pulang kampung. Keputusan Sudrajat melunakkan hati istrinya yang kemudian bersedia kembali untuk berbaik-baik dengan Sudrajat. Pada dasarnya istri Sudrajat memang wanita penyabar. Tak sekali dua kali suaminya melakukan hal itu tapi ia selalu bisa memberi maaf.

SAKIT ANEH

Dengan modal di tangan, Sudrajat kembali berjualan di kota Bandung. Tapi saat berjualan ia mengalami banyak hal tak nyaman. Hatinya kerap dihinggapi rasa tidak nyaman sampai akhirnya memutuskan pulang kampung kembali. Di kampung ia mengalami sakit aneh. Badannya kerap menggigil dan lemas. Hal ini berlangsung terus-menerus.

Sudrajat berusaha berobat, dari medis hingga non-medis. Istrinya setia merawat Sudrajat setiap hari. Badannya yang menggigil kadang berubah menjadi panas secara drastis. Panas itu terkadang tak kuat ia tanggung, hingga ia mesti membuka baju dan mengipas-ipas di halaman rumahnya.

Tapi kalau malam hari, tubuhnya menggigil kedinginan. Begitu yang berlangsung sampai kemudian orang mendapati ada ceruk dalam di punggungnya hingga tampak seperti berlubang. Daging di lubang punggung itu seperti habis hingga tulangnya tampak. Segala usaha pengobatan kembali dilakukan, tapi hasilnya masih belum memuaskan.

Pihak keluarga yang mengetahui hal itu kemudian hanya bisa pasrah setelah segala upaya yang dilakukan tak menemui hasil. Pada akhirnya memang manusia hanya bisa berusaha dan hanya Tuhan yanbg menentukan hasilnya. Sudrajat terkadang menangis menanggung sakit yang tak terperi di badannya.

Pada suatu malam Sudrajat berteriak bahwa ruangan kamarnya menjadi gelap, padahal kamar itu terang-benderang. Orang-orang kemudian berkumpul dan membaca al-Qur’an secara bergantian. Sudrajat yang gelisah dan terus berteriak menyebut gelap berusaha ditenangkan. “Di sini banyak orang. Kamu tenang! Kamu tenang ya!” ujar orang tua Sudrajat yang juga menungguinya.

Tiba-tiba orang di ruangan itu terkejut mendengar suara Sudrajat, “Mak, aku bertobat Mak, aku banyak salah, banyak dosa, menyakiti istriku, anak-anakku. Aku minta surat Yasin, aku mau ngaji,” ujar Sudrajat.

Dengan susah-payah Sudrajat membaca surat Yasin sampai selesai. Saat itulah ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semua orang melepas kepergiannya dan bertawakal kepada Allah swt. Keanehan terjadi. Bolong di punggung Sudrajat perlahan menutup hingga tampak seperti sedia kala. Hanya tersisa ceruk kecil bekas lubangnya.

Demikian. Sudrajat sempat bertaubat bersungguh-sungguh di akhir hayatnya dan istrinya juga sudah memaafkan. Semoga ia berpulang dalam rahmat dan ampunan. Amin.

SUMBER

Klik Jempol Di atas yaa… Otomatis Berteman dgn Saya….
dan TOLONG Bantu Bagikan ke Facebook ……

Loading...