Loading...
Loading...

Sebuah berkah sedekah mewujudkan mimpi laki-laki penjual buku itu. Ia merasa tak sia-sia merantau ke Jakarta.

Terlahir sebagai keluarga yang miskin, Kasturi tidak pernah patah semangat untuk bisa membahagiakan anak dan istrinya. Meski untuk makan sehari-hari saja sulit baginya. Namun, tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menyengsarakan mereka. Apa pun akan dikerjakannya, asalkan anak dan istrinya bisa bahagia, meski harus jalan berkilo-kilo sekalipun.

Suatu kali, anaknya merengek ingin minta dibelikan sepeda karena teman-temannya sudah punya semua. Kasturi sangat sedih mendengarnya. Dari mana ia bisa membelikan sepeda itu. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Tapi, desakan sang anak setiap saat akhirnya membuatnya tak tega. Akhirnya, kepada sang anak, Kasturi pun berjanji akan membelikannya sepeda.

Dengan pinjam uang ke tetangga, Kasturi pun merantau ke Jakarta untuk mencari uang. Namun, sampai di kota, pekerjaan itu ternyata tidak mudah didapatkannya. Sebab, dia merantau hanya bermodalkan nekat saja. Tidak ada sanak famili dan teman yang bisa dimintakan bantuannya.

Hingga, suatu hari, ia melihat proyek pembangunan apartemen dan setengah memaksa ia pun memint amenjadi tenaga kuli disana. Akhirnya, dengan sedikit terpaksa, sang mandor pun mempekerjakannya.

Cukup dua bulan saja ia menjadi kuli karena pekerjaan itu akhirnya selesai dan Kasturi pun menganggur kembali. Dengan uang yang ada, ia pun berniat berjualan buku bekas. Sebab, saat menjadi kulit, ia pernah melihat seorang bapak-bapak membawa buku bekas dan menjualnya. Dari sinilah inspirasi itu muncul.

Modal awal Kasturi jualan buku bekas adalah 15 buah eksemplar. Ia lalu berkeliling dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung. Awalnya sulit, namun perlahan-lahan bukunya laku keras hingga bisa menambah modalnya. Kian hari, buku yang dijualnya bertambah menjadi berpuluh-puluh. Tidak itu saja, ia pun mulai menjual tasbih dan barang-barang lainnya.

Dari sinilah, kasturi mulai mengubah strategi bisnisnya. Ia tidak lagi berjalan dan mondar-mandir keliling kampung karena dirasakannya mulai capek. Tapi, ia mulai standby di masjid-masjid besar saat hari Jum’at atau acara-acara tertentu. Perkiraannya ternyata meleset. Selama beberapa hari hasil dagangannya tidak sesuai harapan.

Seketika ia pun mulai putus asa. Sempat terbesit dalam pikirannya untuk berjualan keliling lagi. Namun, bisikan hari belum mengizinkannya.

MENDENGAR CERAMAH AGAMA

Sambil menggelar lapak dagangannya di depan masjid, Kasturi pun sekali-kali ikut mendengarkan ceramah agama gratis yang diselenggarakan masjid. Suatu kali, ia mendengar ustadz sepuh berceramah tentang keberkahan sedekah. Disebutkannya bahwa sedekah itu mampu melapangkan rezeki dan memperbaiki nasib. Karena itu, janganlah ragu untuk menyedekahkan sebagian rezeki yang kita peroleh.

Dari balik jendela dan pintu masjid, Kasturi hanya manggut-manggut saja mendengarkan ceramah itu. Sementara lapaknya dibiarkan tergerai dan tak ada seorang pun yang melihat-lihat jualannya. Ceramah itu pun belum menggugah perasaan kasturi.

Berhari-hari ia menggelar lapaknya di masjid, namun hasil dagangannya tidak sesuai harapan. Hal ini sempat membuatnya putus asa dan ingin pulang kampung. Baginya, ternyata, mencari duit di kota itu tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan.

Namun, untuk makan saja sulit, apalagi punya uang untuk bisa pulang kampung. Seketika itu ia ingat kepada anaknya. Ia teringat pada janjinya akan membelikan sepeda untuk anak kesayangannya itu. Bila sudah begitu, mata Kasturi pun hanya bisa berkaca-kaca. Apa yang akan dikatakannya kepada sang anak, jika kenyataannya ia telah gagal.

Loading...

Di tengah rasa putus asa itulah, ia teringat dengan perkataan ustadz sepuh beberapa minggu yang lalu tentang keberkahan sedekah. Akhirnya, dengan uang tersisa di kantong sebesar 10 ribu perak, ia pun memasukkannya ke kotak amal yang terpajang di pojok masjid. Dengan tidak mengharap apa pun, ia melangkah keluar usai melaksanakan shalat sunnah Tahiyatul masjid.

Saat itu hari Jum’at, sehingga banyak jamaah yang hendak melaksanakan shalat Jum’at di sana. Perasaan Kasturi agak tidak menentu. Sebab, sejak pagi hingga pukul 11.00 WIB, belum satu pun barang dagangannya ada yang terjual. Sementara uang 10 ribu perak yang ada di kantong sudah beralih ke kotak amal.

Meski ia ikhlas menyumbangkannya, tetapi ia harap-harap cemas jika memang hari itu belum ada barang dagangannya yang terjual. Maka resikonya, hari itu pun ia bisa berpuasa alias tidak makan.

Orang lalu-lalang di depan Kasturi. Sebagian dari mereka ada yang hanya melihat-lihat saja barang dagangannya. Sebagian pula ada yang memegang da hanya menanyakan harga, namun tidak jadi membeli.

Hingga adzan bergema, tanda sang khatib akan naik mimbar untuk khutbah Jum’at, barang dagangan Kasturi belum satu pun yang laku terjual. Tentu saja, hal ini membuatnya gelisah.

Di tengah rasa gelisahnya, tiba-tiba suara iqamat berkumandang dan jamaah shalat Jum’at pun berdiri untuk segera siap-siap menunaikan kewajibannya. Kasturi pun demikian. Ia tidak masuk ke dalam masjid dan lebih memilih shalat di dekat lapak dagangannya, sehingga ketika shalat selesai, ia segera bisa mendekati lapaknya dan menunggunya.

Usai shalat, Kasturi segera mendekati lapaknya kembali. Belum lama menunggu, tiba-tiba ada orang yang mendekati lapaknya dan menanyakan harga. Tanpa ditawar lagi ia membelinya. Begitu seterusnya, satu dua orang lagi menyusul membelinya hingga beberapa puluh orang. Tampak Kasturi cukup kewalahan melayani para pembeli.

Saking banyaknya orang yang antri membeli barang dagangan Kasturi, dari jauh lapaknya tidak terlihat. Yang ada hanya puluhan orang sedang jongkok memegang barang dan menanyakan harga.

Setelah sejam lebih berkutat dengan kesibukan melayani pembeli, akhirnya, barang dagangan kasturi benar-benar hampir ludes terjual. Dari 100 eksemplar buku, sekitar 90 eksemplar yang terjual.

Sisanya seperti tasbih dan yang lainnya pun ikut terjual. Totalnya hari itu kasturi bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 3 Juta. Sebuah hasil dagangan yang spektakuler baginya. Baru kali ini ia bisa menjual barang dagangannya selaris itu. Akhirnya Kasturi pun melakukan sujud syukur untuk merayakan keberhasilannya.

Seketika ia ingat kampung. Ia teringat pada anak semata wayangnya yang ingin dibelikan sepeda. Kasturi tiba-tiba berubah menjadi begitu bersemangat. Padahal, beberapa hari ia tampak sangat loyo karena hampir putus asa. Tanpa pikir panjang ia pun segera pulang ke kost.

Besok harinya, Kasturi pulang kampung sambil membawa uang hasil dagangannya. Namun, di tengah jalan ia mampir ke toko sepeda. Setelah menawar harga sepeda bekas, namun terlihat masih baru, Kasturi pun pulang ke rumah.

Melihat bapaknya pulang, sang anak pun lari bahagia mendekatinya. Apalagi, setelah dilihatnya sang bapak sambil membawa sepeda. Betapa bahagianya Harnum, istri Kasturi. Akhirnya, niat suaminya kesampaian. Ia sangat bahagia dan sang anak pun ceria.

Demikian kisah sedekah yang dialami oleh Kasturi. Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin.

SUMBER

Klik Jempol Di atas yaa… Otomatis Berteman dgn Saya….
dan TOLONG Bantu Bagikan ke Facebook ……

Loading...