Loading...
Loading...

Kisah ini diambil blog grenbara.bravejournal yang telah dipublikasikan oleh tambahcheesy.com yang berdasarkan pengalaman seorang wanita tua yang menyaksikan secara langsung kejadian tersebut.

“Tidak ada yang bisa menghapus ingatanku akan cerita ini. Aneh dan meyakinkan jika teringat akan penyiksaan Tuhan terhadap anak yang berbuat durhaka terhadap ibunya sendiri.” awal Ibu Mariam mulai menceritakan pengalamannya tersebut.

Jamilah yang saat itu berusia sekitar 20an tahun (bukan nama sebenarnya) merupakan seorang istri yang malang.

 

Ia telah ditinggalkan suaminya saat ia melahirkan anak pertamanya

Jamilah akhirnya terpasa harus berjuang sendiri menghidupi anaknya.

Beruntungnya ia masih memiliki orangtua yang peduli terhadapnya yaitu ibunya sendiri.

Jamilah pun kembali ke rumah ibunya bersama anaknya.

Meski tidak mendapat kasih sayang suami, ia beruntung memiliki seorang ibu yang begitu mencintainya.

Si ibu selalu menjaga anak laki-lakinya dan juga Jamilah dengan penuh kasih sayang.

Makan dan minuman pun masih ditanggungnya karena ia masih memiliki ayah yang bekerja di ladang.

Ayah Jamilah keluar bekerja pada pagi-pagi sekali dan pulang hingga hampir menjelang malam.

Dan ibunya tidak memiliki banyak pekerjaan di rumah, hanya memberi makan hewan, sementara saudara kandungnya sudah menikah dan mengurusi keluarga masing-masing.

Jamilah merupakan anak bungsu dalam keluarga tersebut, walaupun masih muda tapi statusnya sekarang adalah seorang janda.

Masa remajanya masih belum terpuaskan dan pikirannya masih belum begitu matang dalam mengarungi hidup.

Jamilah merasa bahwa dirinya begitu bebas dan keluar dari belenggu hidupnya setelah ditinggal suaminya.

Ia merasa yakin bahwa dirinya masih mudah dan masih kelihatan cantik.

Segala urusan anaknya diserahkan kepada ibunya karena belum terbiasan mengurusi anak yang masih kecil.

Semua masalah makan dan merawat anaknya diserahkan kepada ibunya, dan ia hanya membantu alakadarnya saja agar tak terlihat sebagai seorang pemalas.

Perangai Jamilah semakin menjadi-jadi saja, ia suka memakai pakaian yang seksi dan suka bersoleh agar tampak cantik.

Suatu hari, Jamilah telah menyampaikan hasratnya bahwa akan berdandan sesuai dengan tren sekarang.

Tapi ibunya selalu melarang karena tahu kandungan bahan rambut tersebut berasal dari lemak babi dan diharamkan.

“Ala, bukan nya mau makan babi, hanya disemprotkan dikepala agar rambut lebih hitam dan mengkilap saja,” jawab Jamilah beralasan.

Tapi ibunya tetap melarangnya hingga terjadi pertengkaran antara Jamilah dan ibunya.

Pertengkaran tersebut semakin menjadi dan Jamilah sampai mengeluarkan perkataan yang kasar sambil menyumpahi ibunya.

“Binatang Babi! Binatang Anjing!” kata Jamilah, dan ibunya hanya diam sambil menahan tangis.

Semakin hari, keinginan Jamilah semakin berani, ia selalu tampil cantik dan seksi dengan dandanan yang kekinian.
Jamilah ingin supaya banyak laki-laki yang terpesona dengan dirinya dan jadi primadona di kampungnya.

Suatu hari, saat Jamila pulang dari salon untuk berdandan rambutnya, tiba-tiba ia mendengar suara anaknya yang masih kecil menangis dengan keras.

Hati Jamilah langsung berpikiran jahat kepada ibunya, ia menduga ibunya sengaja membiarkan anaknya dan tidak mau mengasuhnya karena ingin balas dendam kepadanya.

Dengan penuh emosi, Jamilah masuk ke rumah menuju ke kamar tempat anaknya menangis, lalu mengambil anaknya dan meletakkannya di sudut dapur.

Jamilah pun pergi mencari ibunya di kamarnya sambil ngomel-ngomel.

Ia melihat ibunya sedang mengerjakan sholat, karena bawaan emosi, Jamilah tak memikirkan ibunya sedang apa, ia langsung menendang ibunya yang sedang sujud sholat sambil berkata:

“Oi babi, anjing beruk! tak bisakah kau berhenti membuat orang susah dan tak mau melihat aku senang sedikit.”

Ibunya pun tersungkur di depan sajadah sambil mengaduh kesakitan, tanpa tahu apa penyebab ia mendapat perlakuan demikian.

Setelah beberapa menit barulah ia mengetahui apa penyebab Jamila marah hingga tega melakukan hal yang demikian beraninya.

Sebenarnya niat ibunya bukanlah dengan sengaja membiarkan cucunya itu menangis, tapi karena saat itu ia sedang sholat.

Loading...

Ia meneruskan solatnya dan menyelesaikannya terlebih dahulu baru mengambil cucunya tersebut, namun belum selesai ia sholat, keburu Jamilah sudah pulang dan mendapati anaknya menangis.

Ibu Jamila merasa hancur melihat tingkah anaknya yang begitu durhakanya dan tega melakukan hal yang sangat menyakitkandirinya.

Sang ibu merasaka sakit seluruh tubuhnya akibat perlakuan anaknya tersebut, tapi ia tetap berdoa agar Jamilah mendapat ampunan Allah.

Tapi, takdir Allah pun datang, secara tiba-tiba Jamilah berteriak dari arah dapur saat akan mengambil anaknya.

Si ibu merasa terjadi sesuatu pada anak dan cucunya tersebut.

Dengan rasa sakit yang tertahan akibat tendangan Jamilah saat sholat tadi, si ibu pergi ke dapur dengan tergopoh-gopoh.

Ia terkejut melihat Jamilah yang berteriak dalam kodisi yang mengerikan.

Tubuh Jamilah terikat oleh rantai besi yang keluar dari tanah lantai dapurnya yang melilit tubuhnya.

Entah bagaimana rantai itu tiba-tiba bisa keluar dari dalam tanah dan melilit tubuhnya

Rantai tersebut mengikat kakiJamilah semakin erat hingga Jamilah merasa kesakitan yang teramat sangat.

Suara Jamilah pun terdengar oleh tetangga di sekitar rumahnya.

Jamilah menjerit sejadi-jadinya karena merasakan kesakitan yang teramat sangat hingga anaknya yang berada dalam dekapannya terlepas.

Si ibu pun sampai tak sadarkan diri melihat keadaan jamilah yang demikian tragisnya.

Ibu Mariam yang merupakan salah seorang yang menyaksikan kejadian yang diperlihatkan oleh Allah tersebut berusaha membantu melepaskan ikatan rantai besi yang melilit kedua kaki Jamilah namun tak mendapatkan hasil.

Para tetangga yang datang pun beramai-ramai mencoba untuk membantu melepaskan ikatan rantai besi tersebut, tapi juga tidak berhasil.

Teriakan Jamilah pun semakin menjadi-jadi, sepertinya ikatan rantai besi tersebut semakin lama semakin kuat mengikat kedua kakinya.

Saking kuatnya ikatan rantai besi tersebut, darah pun keluar dari kedua kaki Jamilah.

Semakin lama darah tersebut keluar semakin banyak hingga membuat Jamilah meninggal dunia karena kehabisan darah dengan raut wajah yang begitu mengerikan.

Ibu Jamilah pun tak bisa berbuat banyak menyaksikan penyiksaan yang didapat oleh anaknya.

Ia sadar itu merupakan balasan dari Allah karena ia telah berbuat durhaka terhadapnya, hanya saja ia tak menyangka kejadiannya secepat itu.

Yang membuat warga dan ibu Jamila sedikit aneh adalah saat Jamilah meninggal, perlahan-lahan rantai tersebut terlepas dari tubuh Jamilah dan dengan sendirinya masuk kembali ke dalam tanah.

Semua orang yang melihatnya merasa terkejut dan hampir tak percaya apa yang terjadi,

“tapi itulah balasan dari Allah pada Jamilah yang telah berbuat durhaka kepada ibunya,” kata Ibu Mariam sambil dengan mata yang berkaca-kaca seperti menahan tangis.

Setelah jenazah Jamilah dikuburkan, dan memasuki hari yang ke 7, sebuah kejadian yang ditunjukkan Allah kembali terjadi.

Saat semua orang sedang membacakan surat Yasin dan ayat-ayat Al Qur’an lainnya, mereka mendengar suara orang yang meraung-raung dari arah kuburan.

Suara tersebut terdengar sangat menakutkan.

“Mak ooiii…..!! Ayah ooiii!! Tolonglah…! Allah Tuhanku….minta tolong…! Mak ….ayah…tolonglah!”
suara yang terdengar dari arah kuburan Jamilah.

Salah seorang warga pun memberitahukan hal tersebut kepada ibu Jamilah.

Ibu Jamilah dan para tetangga pun segera ke kuburan Jamilah dan menggali kembali kuburan Jamilah karena menduga kalau

Jamilah masih hidup dan hanya mengalami mati suri.

Setelah digali, alangkah terkejutnya sang ibu dan warga yang melihatnya, Tubuh Jamilah yang baru seminggu dikubur telah berubah menjadi sangat mengerikan.

Kepalanya berubah menjadi kepala seekor babi.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Allah kembali perlihatkan kekuasaannya, ibu Jamilah bermimpi bahwa Jamilah datang kepadanya dengan keadaan yang sangat mengerikan dan sambil tertawa berkata:

“Sekarang ibu tidak perlu susah payah untuk mendoakan arwah saya, karena saya telah keluar dari Islam”

Saat sadar dan terbangun dari tidurnya, ibu Jamilah terkejut dan menangis tersedu-sedu sambil berdoa kepada Allah agar mengampuni dosa anaknya.

Begitulah sebuah kisah anak yang durhaka kepada ibunya.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita untuk berbakti dan menghormati kedua orantua kita. (Sripoku.com/herwis)

Klik Jempol Di atas yaa… Otomatis Berteman dgn Saya….
dan TOLONG Bantu Bagikan ke Facebook ……

Loading...